beografi sang soeharto

Posted: Oktober 19, 2010 in Uncategorized

BUKU BIOGRAFI SOEHARTO: Apa Maksudnya?

with 28 comments

Soeharto

Oleh Beni Bevly
Menarik dan sekaligus mengecewakan sekali setelah membaca ulasan mengenai biografi yang di-authorized oleh mantan presiden RI, Soeharto, “Soeharto, the Life and Legacy of Indonesia’s Second President“. Biografi yang ditulis oleh Retnowati Abdulgani-Knapp belum aku miliki dan tentunya belum dibaca. Tetapi dari ulasan-ulasan di beberpa media yang aku baca, aku bertanya dalam hati, apa maksudnya? Pertanyaan ini timbul karena ada kesan bahwa buku ini menyampaikan pesan-pesan yang agaknya bertentangan dengan semangat reformasi. Hal ini tercermin dari tiga hal di bawah:

Pertama, terlepas dari semua jasanya, Soeharto jelas adalah seorang pelanggar Hak Asasi Manusi (HAM), koruptor dan ditaktor. Hal ini tidak perlu dijelaskan lagi kita semua tahu akan hal ini. Tetapi dalam biografinya, oleh Retnowati Abdulgani-Knapp, Soeharto dilukiskan sebagai tokoh yang simpatik, taat terhadap agama dan ia dianggap sebagai orang yang tak berdosa dan hanya korban para kroninya (kolongmerat Chinese).

Di bawah adalah komentar yang aku kutip dari Barry Desker, head of the S. Rajaratnam School of International Studies, dan former Singapore ambassador untuk Indonesia:

“While Soeharto and his family are portrayed sympathetically, the biography does not shy away from assessing that the core of public discontent centred on the control by Soeharto’s extended family and 50 other families of most of Indonesia’s economic successes.”

Kedua, aku memang tidak begitu tahu mengenai Retnowati Abdulgani-Knapp, putri Roeslan Abdulgani. Dalam hal ini aku hanya mempunyai kesan terhadap Roeslan Abdulgani, ayahnya sebagai seorang yang bersikap mendua dalam hal berpolitik (Ataukah hal ini memang hal yang lumrah bagi para politikus?).

Pada jaman Soekarno, Roeslan Abdulgani adalah pengikut dan ajudan setia Soekarno dan seingat aku, ia mempropagandakan NASAKOM dengan semangatnya. Tetapi setelah Soekarno jatuh, ia mendekati Soeharto dan berhasil mengambil hatinya dengan mempropagandakan Pancasila habis-habisan. Aku meragukan sikap politiknya yang berkesan oportunis. Apakah sikap seperti ini juga menurun pada putrinya, Retnowati Abdulgani-Knapp? Jika benar, maka tidaklah heran dengan tulisan dia di buku ini.

Ketiga, komentar Siswono Yudhohusodo (salah satu menteri jaman Orde Baru) dalam rangka peluncuran buku itu:

“Seperti Bung Karno, Soeharto naik (menjabat) dengan baik-baik tapi diturunkan dengan cara tidak baik.”

Bagaimana Siswono bisa meng-claim bahwa Soeharto “naik dengan baik-baik” jika ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutkan jutaan jiwa melayang di tangannya dengan alasan mengamankan negara dari PKI? (baca: John Roosa, Pretext for Mass Murder, 2006).

Aku menilai bahwa isi buku ini terdapat kecenderungan untuk menghidupkan Orde Baru dan menghentikan langkah Reformasi. Mudah-mudahan aku salah.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s